Lewati ke konten utama
Tengku Fisabilillah Bridge over the Barelang strait, the first of six bridges on the road from Batam to Galang Island

Budaya

Kamp Pengungsi Galang

Bekas kamp UNHCR di Pulau Galang (1979–1996), tempat para manusia perahu Vietnam menunggu pemukiman kembali. Ada museum, gereja, pagoda, dan makam dengan lebih dari 500 kuburan. Sekitar 60 km di selatan Batam Centre lewat jembatan Barelang.

Barelang90 menit

Sijantung, Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29485, Indonesia

Sorotan
  • Bekas kamp pemrosesan pengungsi Indocina UNHCR, 1979–1996
  • Museum berisi kartu registrasi, foto, dan barang sehari-hari
  • Gereja dan Pagoda Quan Âm dari masa kamp
  • Makam Nghĩa Trang dengan 503 kuburan
  • 70–90 menit naik mobil dari Batam Centre lewat jembatan Barelang

Tempat Menunggu

Dari 1979 sampai 1996, Pulau Galang di ujung selatan rangkaian Barelang menjadi salah satu kamp pemrosesan utama di Asia Tenggara bagi pengungsi Indocina. Sebagian besar adalah manusia perahu (boat people) dari Vietnam yang melarikan diri lewat laut setelah 1975; pengungsi Kamboja dan Laos juga tinggal di sini. Pemerintah Indonesia mengelola kamp ini dengan dana dari badan pengungsi PBB, UNHCR, sementara Palang Merah Indonesia (PMI) mengelola rumah sakitnya.

Jumlah orang yang pernah tinggal di sini diperkirakan berbeda-beda. Kajian akademis di Inside Indonesia (2020) menyebut sekitar 120.000–145.000 orang; surat kabar dan perkumpulan pengungsi sering menyebut sekitar 250.000. Pada puncaknya, kamp ini menampung sekitar 11.000 orang sekaligus. Sebagian besar akhirnya dimukimkan di negara ketiga. Sejak 1989, berdasarkan Comprehensive Plan of Action, pendatang baru harus lolos penyaringan perorangan, dan banyak yang ditolak dipulangkan ke Vietnam. Pengungsi terakhir meninggalkan Galang pada September 1996.

Kini bekas kamp ini menjadi situs peringatan yang dikelola BP Batam. Banyak mantan penghuninya masih hidup, dan sebagian kembali untuk menziarahi makam dan tempat-tempat yang mereka ingat. Ini tempat untuk berjalan pelan dan membaca, bukan tempat berfoto.

Kisah lengkapnya, termasuk sisi baik dan sisi kelamnya, ada di tulisan kami: Kamp Pengungsi Galang: Sejarah Manusia Perahu di Dekat Singapura.

Apa yang Bisa Dilihat Sekarang

Museum (Museum Kemanusiaan) menyimpan kartu registrasi UNHCR, foto para mantan penghuni, panci, buku, dan barang sehari-hari lain yang ditinggalkan. Keterangannya sedikit, jadi pemandu atau sedikit bacaan sebelumnya akan membantu.

Tempat ibadah. Gereja Katolik Nhà Thờ Đức Mẹ Vô Nhiễm dan pagoda Buddha Chùa Quan Âm (Vihara Quan Am Tu) berasal dari masa kamp dan masih dirawat sampai sekarang. Keduanya tempat ibadah, jadi masuklah dengan tenang dan berpakaian sopan.

Makam Nghĩa Trang Galang berisi 503 kuburan orang yang meninggal di kamp, menurut laporan The Jakarta Post dan majalah Da Màu. Sebagian kuburan tidak bernama.

Patung Kemanusiaan (dalam bahasa Vietnam Tình Nhân Loại) berdiri di area kamp. Menurut tulisan di majalah Da Màu tahun 2013, patung ini dibuat oleh seorang pematung pengungsi untuk mengenang perempuan muda yang bunuh diri setelah mengalami kekerasan seksual.

Perahu dan reruntuhan. Satu atau dua perahu kayu pengungsi dipajang dekat pintu masuk. Di sekitar area ada bekas rumah sakit, penjara kecil, sisa kantor UNHCR, dan barak kayu panjang, banyak di antaranya kini ditumbuhi semak.

Berkunjung dengan Hormat

Perlakukan makam dan tempat ibadah seperti tempat peringatan lainnya: bicara pelan, jangan memanjat kuburan atau bangunan, dan minta izin sebelum memotret orang yang sedang berdoa. Kenakan pakaian yang menutup bahu dan lutut.

Tidak ada restoran di lokasi. Bawa air minum, dan makanlah sebelum atau sesudah berkunjung. Pagi hari lebih sejuk dan lebih sepi; siang hari hampir tidak ada tempat berteduh.

Cara ke Sana dari Singapura

Kamp ini berjarak sekitar 60 km dari terminal feri Batam Centre dan Harbour Bay, 70–90 menit berkendara lewat Jalan Trans Barelang melintasi keenam jembatan. Tidak ada angkutan umum, dan Grab tidak bisa diandalkan di Galang, terutama untuk perjalanan pulang. Sewa sopir pribadi seharian adalah pilihan yang paling praktis, sekaligus bisa mampir di jembatan Barelang di perjalanan.

Tiket masuknya murah, dibayar tunai dalam rupiah per orang dan per kendaraan. Menurut laporan pengunjung, jam bukanya sekitar 07.30–16.30 pada hari kerja dan sedikit lebih lama di akhir pekan, tetapi jam ini tidak diumumkan secara resmi, jadi tanyakan dulu ke sopir Anda. Sediakan waktu 60–90 menit di lokasi dan ambil feri sepagi mungkin.

Kalau tidak mau repot merencanakan sendiri, tersedia tur sehari dari Singapura yang sudah termasuk feri dan kunjungan ke kamp.

Lokasi

Sijantung, Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau 29485, Indonesia

Budaya

Kamp Pengungsi Galang

Pesan Aktivitas Ini